*** 6 Januari 2026 written by Anggia

Apakah pandangan netral itu ada? Dalam percakapan hari ini dengan rekan kantor, salah satu rekan kantor, menyahut bahwa tidak ada yang namanya pandangan netral dari setiap orang.

Saat itu yang dimaksud rekan kerja tersebut dalam sahutannya adalah aku yang menyatakan netral terhadap salah satu topik percakapan kami tentang permasalahan yang sedang viral.

Dalam subjektivitas pribadi, tentu saja setiap orang pasti punya preferensi sendiri terhadap suatu hal, tang membuatnya menjadi tidak netral dalam memandang sesuatu hal.

Namun apakah netralitas pandangan terhadap sesuatu hal adalah niscaya?

Tentu saja, hal inilah yang saya maksud Ketika saya memilih berpandangan netral. Netral disini Adalah objektivitas saya terhadap suatu hal, Dimana saya memilih menarik diri dari kedua kubu pandangan, secara sadar menempatkan diri sebagai outsider dan berusaha menilai, melihat, memahami kedua sisi secara adil tanpa memihak. Pilihan nalar kita untuk menjadi netral disini adalah penting, terutama untuk memahami permasalahan secara utuh. Memilih netral dalam dua hal sudut pandang yang berbeda lebih dapat membantu kita melihat sebab akibat yang lengkap dari sesuatu hal yang sedang diperdebatkan atau memiliki dua sudut pandang yang berbeda.

Pada akhirnya, Ketika kita bisa memahami permasalahan secara utuh, kebijaksanaan dalam merespon permasalahan tersebut adalah yang akan kita dapatkan. 🙂



*** April 9th, 2026 written by Anggia

Kutipan dari William James, psikolog dan filosof, “The greatest discovery of my generation is that human beings can alter their lives by altering their attitudes of mind’, sungguh banyak mengispirasi kita semua, it’s such a wake-up call  to us all dan insightful.

Berapa banyak dari kita menyadari, bahwa semua pikiran negatif yang datang ke diri kita (yang akhirnya mempengaruhi pilihan perilaku kita menjadi lebih negatif), dengan perubahan pola pikir atau sikap (tentu saja harus dilakukan segera kita menghadapi mode negatif), maka akan menghasilkan kehidupan kita yang lebih sehat secara mental? Tidak semua orang menyadari hal ini. Namun sebenarnya kita bisa mempelajarinya melalui pengalaman hidup, trial & error.

Kita bisa saja berlama-lama merasakan emosi negatif akan semua hal yang terjadi dalam hidup. Namun, berlama-lama dalam emosi negatif sungguh tak mengenakkan dan tentu saja mempengaruh kualitas kehidupan kita sehari-hari. Kita perlu menyadari bahwa pikiran kita sendiri yang bisa mengatur bagaimana perasaan kita. Dan kita ternyata kita bisa memilih untuk menjadi lebih positif dengan segera. Caranya tentunya adalah menyadari dan memahami bahwa mengubah emosi negatif dari dalam pikiran kita menjadi positif adalah mungkin. Jika kita telah menyadari dan memahami cara kerja pikiran kita, bahwa semua pikiran kita bisa diubah dengan cepat, tentunya kita akan banyak mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari- hari kita.

Ketika ada kejadian dalam hidup sungguh tak mengenakkan, dengan mengubah pola pikir, menjadi misalnya “menyimpan emosi negatif sungguh merugikan saya” . Maka dengan pemikiran ini, kita lebih peka dengan keinginan segera mengubah emosi negatif menjadi positif. Bayangkan, kita bisa seharian “not in a good mood” jika sesuatu yang tak mengenakkan terjadi. Lalu, ketika sudah menyadari bahwa diri kita sendiri bisa mengubah sendiri mood negatif tersebut, maka pikiran kita akan instantly mencari cara agar tak sedih atau negatif lagi. Caranya pun tentu saja kita yang paling tahu apa yang paling bisa menyenangkan kita. Bagi yang religius, maka akan lebih mendekatkan diri kepada yang maha Kuasa. Bagi yang suka seni, maka akan bernyanyi lagu-lagu yang menyenangkan. Bagi yang suka olahraga, maka akan menghabiskan energi negatif terebut dengan membuang energi (berolahraga). Atau bagi yang lebih suka produktif, akan menghabiskan waktu dengan bekerja menghabiskan waktu menjadi lebih produktif dan bernilai.