Membaca Buku adalah hobiku sejak kecil, dimulai sejak kelas 1 SD. di komplek rumahku, komplek perumahan karyawan salah satu BUMN di Indonesia. Di Komplek ada perpustakaan umum yang di kelola oleh dharma wanita istri-istri karyawan BUMN. Bangunannya cukup luas, ada bagian juga khusus untuk anak-anak. dan diluar perpustakaan pun ada taman bunga indah. Membuatkan sangat nyaman berlama-lama membaca, dan kemudian meminjam buku untuk dibawa kerumah. Pergi keperpustakaan ini pun cukup naik sepeda atau berjalan kaki karena jaraknya yang cukup dekat dari rumahku. Buku-buku apa yang tersedia di perpustakaan tersebut? hampir semua jenis buku. Fiksi dan non-fiksi. Buku Jurnal penelitian pun ada. Walaupun tentunya terkhusus bacaan non-fiksi, tak selengkap perpustakaan karyawan, yang ada di bangunan lain didalam komplek.
Membaca buku, fiksi dan non-fiksi, sungguh menginspirasi, lebih banyaknya memberiku insight. Banyak membuka cakrawalaku tentang dunia, lebih seringnya membuatku banyak mendapat hikmah, nilai- nilai hidup. Senang sekali jika bisa merasakan pengalaman orang lain atau tokoh dalam cerita kedalam diriku. Hidup yang kita habiskan sendiri, tentunya tak akan cukup untuk merasakan banyak pengalaman di dunia. karenanya membaca buku, sungguh cara yang paling efisien untuk menyerap banyak pengalaman dunia melalui buku-buku, menambah pengalaman hidupku sendiri yang sudah kulalui. tentunya jika aku tak membaca buku, tentunya tak banyak yang bisa aku alami, jika dibandingkan jika aku tambahkan pengalaman dari buku-buku yang aku baca.
Ada banyak sekali buku-buku yang sudah aku baca. Sebagian randomly ingin aku share di blog ini. just to remind me, ada banyak beautiful and meaningful words, dari banyak penulis-penulis buku yang inspiratif, yang layak untuk dishare kebanyak orang agar bisa diambil hikmahnya.
BOOK 1
Judul Buku : Negeri di Ujung Tanduk. Penulis : Tereliye
Buku seri politik dari Penulis Tereliye ini sangat layak dibaca. Sebenarnya serial yang pertama kali menggugahku dari penulis tereliye ini adalah serial buku : anak-anak Mamak . Cerita tentang anak-anak Mamak, 4 bersaudara, yang tinggal di pedalaman Provinsi Sumatera Selatan. Karena aku lahir dan besar di Sumsel, latar belakang cerita , penggambaran landscape alam di buku tersebut, sungguh sangat aku pahami. Nostalgia sekali ketika membacanya. Ceritanya pun sangat inspiratif, positifnya penggambaran cerita yang menggambarkan bagaimana baiknya parenting Mamak kepada keempat anaknya. Keempat anak-anak Mamak, tentunya punya ups and down dalam proses tumbuh kembangnya, namun keempatnya berhasil tumbuh menjadi pribadi yang kaya nilai baik, sukses walaupun mengalami suka duka kehidupan.
Kembali lagi ke buku “Negeri Di Ujung Tanduk.” Buku ini bertema Politik. Ceritanya seru, mengalir, dan membuatku tidak ingin berhenti membaca, terus membaca hingga menamatkan membaca bukunya. ada salah satu tulisan dari buku ini, yang menggerakanku untuk memahami lebih dalam tentang demokrasi (cerita di buku ini sangat relate dengan keadaan demokrasi nyata dinegara kita). Tulisan kalimat tersebut adalah ,” Tidak ada demokrasi bagi orang bodoh, seperti juga tidak ada demokrasi bagi orang- orang yang berkepentingan (karena menjadi kontra argumen atas sistem itu sendiri)”.
Penjelasan tentang tulisan diatas adalah percakapan tokoh didalam buku antara Thomas dengan Maryam. Thomas berkata ,” Apakah demokrasi sistem terbaik yang diberikan Tuhan? Difirmankan Tuhan dalam kitab suci? Jelas tidak. Demokrasi adalah hasil ciptaan manusia. Dalam catatan sejarah, sistem otoriter absolut juga bisa memberikan kesejahteraan lebih baik. Tuhan hanya memerintahkan kita memberikan sebuah urusan kepada ahlinya. Silahkan cek banyak kitab suci. Hanya itu. Tidak ada model pemerintahan apalagi demokrasi dalam ajaran kitab suci. “Apakah suara terbanyak adalah suara Tuhan? omong kosong, berani sekali manusia mengklaim sepihak, fait accompli suara tuhan. Coba kau bayangkan sebuah kota yang dipenuhi pemabuk, pemadat, mereka mayoritas, maka saat undang-undang tentang peredaran minuman keras dan ganja disahkan melalui referendum kota, otomatis menang sudah mereka. Bebas menjual minuman keras dimana-mana, mabuk-mabukan dimanapun. Juga masalah lain seperti pernikahan sesama jenis, kebebasan melakukan aborsi bayi. bahkan dalam kasus ekstrim, jika mayoritas penduduk kota sepakat pembunuhan dalah tindakan legal, maka dimana suara Tuhan?”.
Kalimat- kalimat diatas sangat relate dengan demokrasi di Indonesia saat ini. Kita saat ini menganut sistem demokrasi, pemilihan presiden langsung dari rakyat. Masalahnya, saat ini kondisi sebagian besar rakyat kita adalah minim pengetahuan politik. Lebih banyaknya mudah terpengaruh dengan pemberitaan media, tidak crosscheck, tabayun tentang pemberitaan yang ada tentang kandidat. Akibatnya, alih-alih berusaha bijak memilah pemberitaan tentang kandidat yang layak dipilih, mana yang bisa dipercaya dan mana yang tidak. Yang ada sebagian rakyat indonesia, tanpa crosscheck pemberitaan, lebih seringnya langsung percaya dan mudah dipengaruhi dan cenderung mengikuti persepsi publik yang belum tentu benar. Hal ini tentunya merugikan kita, bayangkan jika dengan ketidaktahuan sebagian besar rakyat indonesia, ketidakahlian sebagian besar rakyat indonesia, kita akhirnya memilih pemimpin yang tidak tepat atau tak layak untuk dijadikan pemimpin. Walaupun sistem demokrasi pemilihan langsung, bisa menjadi kontrol rakyat untuk membatasi penguasa/pemerintah dari kesewenang-wenangan, namun demokrasi pemilu baru efektif hanya jika rakyat sudah menjadi pemilih bijak, cukup informasi dan bijak untuk mau banyak menyerap informasi tentang kandidat pemimpin yang akan dipilih, dan secara sadar memilih pemimpin yang layak dan bernilai untuk dipilih menjadi pemimpin. dan saat ini, tentu saja rakyat Indonesia belum berada ditahap ini.
Keadaan rakyat Indonesia ini, sangat tepat digambarkan oleh Filsuf Yunani Kuno, Plato. Plato berargumen bahwa demokrasi rentan berubah menjadi anarki dan tirani, karena memberikan kekuasaan kepada massa yang mudah terpengaruh oleh emosi dan demagog, bukan kepada mereka yang memiliki kebijaksanaan (philosopher kings).
